Pengaruh Terapi Bekam Terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi
Gaya hidup yang semakin
komplek tanpa di sadari telah menimbulkan berbagai macam penyakit, salah
satunya hipertensi. Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan salah satu
masalah kesehatan baik di negara maju maupun negara berkembang (Riskesdas,
2013). Hipertensi juga merupakan keadaan dimana tekanan darah yang dihasilkan
oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Standar hipertensi adalah
sistolik 140mmHg dan diastolik 90mmHg
(Gunawan, 2005).
Penyakit tekanan darah
tinggi adalah salah satu faktor resiko utama dari perkembangan penyakit jantung
dan stroke. Hipertensi biasanya tidak mempunyai gejala. Kenyataannya, banyak
orang yang mempunyai tekanan darah tinggi selama beberapa tahun tapi tidak
mengetahuinya. Itulah sebabnya mengapa hipertensi sering disebut sebagai silent
killer (pembunuh siluman), karena seringkali penderita hipertensi bertahun-tahun
tanpa merasakan sesuatu gangguan atau gejala (Triyanto, 2014).
Tekanan darah merupakan
tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri darah ketika darah di pompa
oleh jantung ke seluruh anggota tubuh (wikipedia, 2013). Tekanan darah biasanya
digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik, dengan
nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 - 140/90. Rata-rata tekanan darah
normal biasanya 120/80 (Smeltzer & Bare, 2001). Dapat dikatakan hipertensi
jika keadaan menetap tekanan sistolik melebihi dari 140 mmHg atau tekanan
diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg. Diagnostik ini dapat dipastikan dengan
mengukur rata-rata tekanan darah pada 2 waktu yang terpisah (FKUI, 2001).
Kasus hipertensi sangat
sering dijumpai diberbagai belahan dunia, prevalensi hipertensi dunia mencapai 29,2%
pada laki-laki dan 24,8 % pada perempuan (World Health Statistic, 2012).
Sedangkan prevalensi hipertensi di Indonesia pada laki-laki sebanyak 32,5 % dan
pada wanita sebanyak 29,3 % (World Health Statistic, 2012).
Di Indonesia, berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi hipertensi di
Indonesia sebesar 25,8%, prevalensi tertinggi terjadi di Bangka Belitung (30,%)
dan yang terendah di Papua (16,8%). Sementara itu, data Survei Indikator
Kesehatan Nasional (Sirkesnas) tahun 2016 menunjukkan peningkatan prevalensi
hipertensi pada penduduk usia 18 tahun ke atas sebesar 32,4%, (Depkes, 2018). Data WHO bulan September 2012,
disebutkan bahwa hipertensi merupakan penyebab kematian utama ketiga di Indonesia
untuk semua umur (7,4%), setelah stroke (15,6%) dan tuberculosis (8,5%),
(Depkes, 2012).
Terapi hipertensi dapat
dikelompokkan dalam terapi nonfarmakologi dan farmakologis. Terapi farmakologis menggunakan obat atau
senyawa yang dalam kerjanya mempengaruhi tekanan darah. Pengobatan farmakologis
yang digunakan untuk mengontrol hipertensi adalah ACE inhibitor, Beta-bloker,
Calcium Chanel Bloker, Direct renin inhibitor, Dieuretik, Vasodilator
(Simadibrata dalam Triyanto, 2014). Sedangkan terapi non-farmakologis adalah
terapi tanpa menggunakan obat-obatan kimia dalam proses terapinya sering
disebut masyarakat sebagai terapi tradisional. Terapi yang dapat kita lakukan
untuk menurunkan tekanan darah tinggi adalah terapi bekam.
Bekam adalah metode
penyembuhan tradisional yang telah dilakukan dan dipraktikkan selama
berabad-abad di berbagai belahan dunia. Terapi bekam dapat dibagi menjadi dua
kategori yaitu bekam basah dan bekam kering. Bekam kering adalah proses
menggunakan ruang hampa udara pada titik bekam untuk mengumpulkan darah daerah
tersebut tanpa sayatan (Sumayyah A. Kobeisy, 2015). Sedangkan bekam basah (atau
hijama dalam bahasa Arab) adalah proses menggunakan ruang hampa pada titik
bekam, bersama dengan penggunaan sayatan (kecil, goresan ringan dibuat
menggunakan pisau cukur), untuk menghilangkan apa yang sebelumnya disebut
sebagai 'darah berbahaya' (ini merupakan akumulasi darah yang terletak tepat di
bawah permukaan kulit), (Sumayyah A. Kobeisy, 2015).
Dalam kitab suci
Al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala berfirman "Dan Kami turunkan dari Al
Quran suatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain
kerugian (QS. Al-Israa: 82). Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda, “ Kesembuhan itu terdapat pada tiga hal yakni minum madu,
sayatan alat bekam dan kay dengan api. Seungguhnya aku melarang umatku dari
kay. (Shahih Bukhari, Ath-Thibb,juz I, hal. 5680). Di zaman Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wasallam, para sahabat bila mengeluhkan suatu penyakit
seperti sakit kepala atau sakit pada kaki, maka Nabi Muhammad memerintahkan
untuk berbekam (Yasin, 2005).
Bekam sudah dikenal bangsa-bangsa
purba sejak kerajaan Sumeria berdiri, sekitar 4.000 tahun sebelum masehi, lalu
bekam berkembang di Babilonia, Mesir, Saba’ dan Persia. Sumeria adalah daerah
sungai Trigis. Pada saat itu, para tabib menggunakan bekam untuk pengobatan
para raja. Sedangkan di Cina, bekam berkembang sekitar2.500 tahun sebelum
masehi, sebelum berkuasanya kaisar Yao. Dan di Cina inilah bekam berkembang
dengan berdasarkan titik-titik akupunctur Di Mesir, bekam sudah ada sejak zaman
kekuasaan Fir’aun, sekitar 2.500 tahun sebelum masehi. Di Persia yakni bangsa
Persi merupakan bangsa yang serumpun dengan bangsa Aria, India, Yunani, Romawi,
Isbanji, Jerman, maupun rumpun Aria Eropa lainnya, yang hidup sekitar 3.000
tahun sebelum masehi bekam berkembang bersama pengobatan fashid, yaitu
pengobatan untuk mengeluarkan darah dari tubuh. Di Indonesia sendiri,
pengobatan bekam dibawa dan dikenalkan oleh
para pedagang asing yang masuk ke Indonesia. Kini pengobatan ini
dimodifikasi dengan sempurna dan mudah pemakaiannya sesuai dengan kaidah-kaidah
ilmiah dengan menggunakan suatu alat yang higienis, praktis dan efektif
(Marliani, 2007).
Di Indonesia masyarakat
sudah banyak yang mengenal terapi bekam tetapi masih banyak pula yang belum
mengetahui jika terapi bekam dapat menurunkan tekanan darah hipertensi. Nah bagaimana
bisa terapi bekam berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah hipertensi? Sudah
banyak penelitian yang membuktikan bahwa terapi bekam dapat menurunkan tekanan
darah tinggi pada penderita hipertensi. Mengapa bisa demikian? Menurut Wadda’
Amani Umar pada tahun 2008, pembekaman biasanya dilakukan pada permukaan kulit
(kutis), jaringan bawah kulit (sub kutis) jaringan ini akan “rusak”. Akibat
kerusakan ini akan dilepaskan beberapa zat seperti serotin, histamine,
bradiknin, slow reaction substance daerah yang dibekam. Dilatasi kapiler juga
dapat tenjadi di tempat yang jauh dari tempat pembekaman. Ini menyebabkan
terjadi perbaikan mikrosirkulasi pembuluh darah. Akibatnya timbul efek
relaksasi (pelemasan) otot-otot yang kaku serta akibat vasodilatasi umum akan
menurunkan tekanan darah secara stabil. Sehingga dapat disimpulkan bahwa adanya
pengaruh pemberian terapi bekam terhadap penurunan tekanan darah pada penderita
hipertensi.
------------------------------------------
------------------------------------------
Nama: Anellysha Putri A
NIM: C1AA18016
1B S1 KEPERAWATAN
------------------------------------------
REFERENSI
Fatonah, S., Rihiantori, T., Astuti, T. Pengaruh Terapi Bekam Terhadap
Tekanan Darah Penderita Hipertensi. Jurnal Keperawatan. Volume XI, No. 1,
April 2015.
Lestari, Y, A., Hartono, A., Susanti, U. Pengaruh Terapi Bekam Terhadap
Perubahan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Dusun Tambak Rejo Desa
Gayaman Mojokerto. Jurnal Nurse And Health. Vol 6, Issue 2, Desember 2017.
Susanah, S., Sutriningsih A., Warsono. Pengaruh Terapi Bekam Terhadap
Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di Poliklinik Trio Husada Malang. Nursing
News. Volume 2, Nomer 3, 2017.
Aleyeidi, N, A., Aseri, K, S., Matbouli, S, M., Sulaiamani, A, A.,
Kobeisy, S, A. Effects Of Wet-Cupping On Blood Pressure
In Hypertensive Patients: A Randomized Controlled Trial. Jurnal Of Integrative Medicine. Volume 13, Nomer 6, 2015.
Aleyeidi, N., Aseri, K. The Efficacy Of Wet Cupping On Blood Pressure Among
Hypertension Patients In Jeddah, Saudi Arabia: A Randomized Controlled Trial
Pilot Study. Altern Integ Med. Volume
4, 2015.
Sangat bermanfaat sekali π
ReplyDeleteWaw dapet ilmu baru lgi nihhhπ
ReplyDeleteSangat bermanfaat πΌ
ReplyDeleteBermanfaat sekali ka
ReplyDeleteseneng bacanya
ReplyDeleteBermanfaat sekalii π
ReplyDeleteBermanfaat sekaliπ
ReplyDeleteMantap
ReplyDeleteTerimakasih ilmu nya sangat bermanfaat
ReplyDeleteBagus banget, Bermanfaat sekali
ReplyDeleteπ
ReplyDeleteMaaaantap
ReplyDeleteππ
ReplyDeleteSangat bermanfaat☺️
ReplyDeleteMantap ππ
ReplyDeleteMantap πππ
ReplyDeleteWahh bermanfaat bgtt
ReplyDeleteTerima kasih, sangat bermamfaat
ReplyDeleteSangat bermanfaat kaka
ReplyDeleteSangat bermanfaat
ReplyDeleteAlhamdulillah dapat ilmu baru yang bermanfaat
ReplyDeleteBagusss bgtt
ReplyDeleteSangat bermanfaat ππ
ReplyDeleteperkembangan dunia kesehatan sungguh luar biasa, sehingga harus banyak alternatif untuk menentukan cara pengobatan, kembali kepada pengobatan tradisional merupakan salah satu pilihan cerdas menghindak efek yang di timbulkan, good job semoga tulisannya bermanfaat ��
ReplyDeleteππ
ReplyDeleteTerimakasih atas informasi yg bermanfaat .
ReplyDeleteBermanfaat sekali
ReplyDeleteSangat bermanfaat
ReplyDeleteBagus dan bermanfaat
ReplyDeleteSangat bermanfaatπ
ReplyDeleteBermanfaat sekali π
ReplyDeletemantap ilmu yg bermanfaaf
ReplyDeletekeren...ilmu jd tau nih
ReplyDelete